Menu Tutup

Gajah Sumatera : Ulasan Lengkap Klasifikasi, Morfologi, Penyebaran, Habitat dan Prilakunya – Cek di Sini

Gajah Sumatera
Gajah Sumatera
Ayo kita jaga Gajah Sumatera!.

Apakah kalian tahu mengenai gajah sumatera? Habitat gajah sumatera berasal dari mana? Nama latin gajah sumatera itu apa? Disini kita akan mengulas mengenai biologi gajah sumatera yang kini semakin terancam punah. Mulai dari klasifikasi gajah sumatera, habitat gajah sumatera dan hal-hal yang berhubungan dengan hewan dilindungi tersebut. Baca Juga : 11 Jurusan Tehnik yang Dapat Kalian Pertimbangkan, Prospek Kerja Menjanjikan?

Biologi Gajah Sumatera, Mamalia Terbesar di Darat

Gajah merupakan mamalia tersebesar yang hidup di darat. Gajah juga bisa kita temui di negeri kita sendiri. Ini merupakan ulasan mengenai gajah sumater. Mungkin bisa menjadi referensi data Anda atau hanya sekedar mengetahui tentang Gajah Sumatera kebanggan kita bersama.

Untuk memudahkan pengunjung, kami telah menyediakan eBook Gajah Sumatera Pdf untuk Anda -Direct eBook Pdf-

1. Klasifikasi Gajah Sumatera

Di dunia di kenal dua jenis gajah yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus). Menurut Seidensticker (1984), ada tiga anak jenis gajah asia yaitu Elephas maximus maximus di Sri Lanka, Elephas maximus indicus di India dan Elephas maximus sumatranus Temminck, 1847 di Sumatera (Lekagul dan McNeely, 1977). Menurut Glastra (2003), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) hanya terdapat di Sumatera dan termasuk salah satu gajah asia yang terancam punah.

Klasifikasi gajah sumatera menurut Lekagul dan McNeely (1977) :

Kerajaan  : Animalia Suku               : Elephantidae
Filum       : Chordata Marga             : Elephas
Sub filum : Vertebrata Jenis                : Elephas maximus
Kelas        : Mammalia Anak Jenis       : Elephas maximus sumatranus
Bangsa     : Proboscidea

2. Morfologi Gajah Sumatera

Gajah asia memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari gajah afrika. Gajah asia termasuk gajah sumatera memiliki panjang kepala dan badan 550 – 640 cm, ekornya memiliki panjang 120 – 150 cm, tinggi bahu mencapai 250 – 300 cm (Lekagul dan McNeely, 1977). Secara umum, gajah jantan lebih besar daripada betina. Gajah asia betina dapat mencapai berat maksimum 3700 kg dan tinggi 2,4 meter sementara gajah jantan dapat mencapai berat 5000 kg dan tinggi 3,2 meter (Mercy, 2009).

Ukuran jejak kaki pada gajah dewasa berkisar antara 35 – 44 cm dan untuk ukuran jejak kaki pada gajah muda yaitu berkisar antara 18 – 22 cm (Poniran, 1974). Umumnya gajah afrika memiliki punggung yang cekung, ukuran telinga yang lebih besar, permukaan kulit yang relatif halus dan pada ujung belalainya memiliki dua “jari”, sedangkan untuk gajah asia punggungnya memiliki bentuk yang cembung, ukuran telinga yang lebih kecil, kulit yang berkerut dan pada ujung belalainya memiliki satu “jari” (Seidensticker, 1984).

Pengenalan individu jantan dan betina selain dilihat dari gading juga dapat dilakukan dengan melihat bentuk tengkoraknya. Pada gajah betina akan terlihat bentuk yang tampak persegi, sedangkan gajah jantan memiliki dahi yang berbentuk bulat telur (Sukumar, 2003).

3. Penyebaran dan Populasi Gajah Sumatera

Populasi gajah sumatera telah mengalami penurunan karena degradasi dan kehilangan habitat oleh pemukiman dan perkebunan dalam skala besar (Blake dan Hedges, 2004). Selain itu, meningkatnya konflik manusia – gajah juga merupakan penyebab terjadinya penurunan populasi gajah sumatera (Hedges et al., 2005). Di Lampung, terjadi penurunan populasi gajah sejak pertengahan tahun 1980-an yang diperkirakan disebabkan oleh konflik manusia – gajah (Hedges et al.,2005).

Saat ini populasi gajah di Lampung ada di tiga lokasi yaitu TNBBS, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Gunung Rindingan (Hedges et al., 2005). Dari tiga populasi yang tersisa, hanya ada dua lokasi yang memiliki daya dukung cukup besar yaitu di TNWK dan TNBBS. Namun, populasi gajah di TNWK dan TNBBS berada di bawah ancaman sebagai akibat hilangnya habitat oleh pertanian, perburuan dan konflik dengan masyarakat di perbatasan taman nasional (Hedges et al., 2006). Hingga saat ini, hanya ada dua populasi gajah sumatera yang diketahui jumlahnya berdasarkan survei yang sistematis oleh Wildlife Conservation Society (WCS) pada tahun 2000 yaitu, populasi gajah di TNBBS sekitar 498 individu dan TNWK sekitar 180 individu (Hedges et al., 2005), sedangkan hutan lindung Gunung Rindingan belum ada perkiraan jumlah gajah (Sitompul, 2011).

4. Habitat Gajah Sumatera

Habitat Gajah Sumatera
Doc. Google Image

Habitat adalah tempat hidup dan berkembang biak suatu organisme secara alami (Suwasono dan Kurniati, 1994). Habitat yang paling disukai oleh gajah sumatera adalah hutan dataran rendah namun dapat ditemui juga pada berbagai jenis ekosistem mulai dari pantai sampai ketinggian diatas 1.750 meter diatas permukaan laut seperti di Gunung Kerinci (World Wide Fund for Nature, 2005). Pada awalnya gajah tersebar di berbagai ekosistem, namun akibat adanya kerusakan habitat yang semakin meluas sehingga saat ini gajah terisolasi di berbagai kawasan yang sempit. Habitat yang cocok untuk gajah yaitu hutan dipterokarp dengan topografi daerah berlembah yang memiliki sumber air cukup (Hamid, 2001).

Penggunaan habitat oleh gajah juga bergantung dengan musim, pada musim kemarau, kelompok gajah biasanya mencari makan dengan melakukan pergerakan dari hutan dataran tinggi menuju hutan dataran rendah dan pergerakan sebaliknya dilakukan oleh gajah pada musim hujan (Wiratno et al., 2004).

5. Perilaku Gajah Sumatera

5.1 Perilaku Makan dan Minum

Gajah merupakan satwa megaherbivora sehingga membutuhkan hijauan dalam jumlah banyak yaitu sekitar 200 – 300 kg biomassa per hari untuk gajah dewasa atau 5 – 10% dari berat badannya (Shoshani dan Eisenberg, 1982). Gajah dewasa dengan berat 3000 – 4000 kg membutuhkan jumlah pakan yang banyak, yaitu 200 – 300 kg hijauan segar per hari pada kondisi alami (World Wide Fund for Nature,2005).

Gajah termasuk pemakan rumput (grazer), semak (browser), daun (folivor) dan buah (frugivor). Gajah menggunakan belalai untuk mengambil makanan dengan cara direnggut, dipatahkan, dan dirobohkan. Selain menggunakan belalai, biasanya juga dibantu dengan anggota tubuh lainnya yaitu gading, dahi, kaki depan, dan mulut (Widowati,1985).
Widowati (1985) mengatakan bahwa hasil renggutan gajah tidak seluruhnya dimasukkan kedalam mulutnya. Selain dengan merenggut, gajah juga merobohkan pohon dan hanya mengambil pucuk daunnya saja, sehingga daerah tempat makan gajah cenderung mengalami kerusakan. Beberapa jenis tumbuhan yang sering dimakan oleh gajah adalah jenis rerumputan, dedaunan, ranting dan kulit batang, serta tanaman budidaya.

Aktivitas makan dilakukan secara berkelompok dengan bergerak dari satu area ke area yang lain. Dalam satu area, rombongan gajah menyebar dengan jarak 5 – 500 meter, namun tetap berkomunikasi satu dengan lainnya dengan menggunakan suara (Widowati, 1985).

5.2 Perilaku Istirahat dan Pemeliharaan Tubuh

Gajah merupakan satwa yang tidak tahan terhadap sinar matahari sehingga sering ditemui di tempat yang terlindung pada siang hari. Gajah dapat tidur sambil berdiri dengan mengibaskan telinga mengganggukkan kepala dan menggoyangkan tubuhnya (Lekagul dan McNeely, 1977). Gajah juga dapat tidur dengan posisi berbaring dan mendengkur (Altevogt dan Kurt, 1975).

Gajah membutuhkan air dalam jumlah banyak (water dependent species) untuk memenuhi kebutuhannya. Jumlah air yang dibutuhkan seekor gajah thailand sekitar 200 liter per hari (Eltringham, 1982). Sementara menurut Poniran (1974) seekor gajah sumatera membutuhkan air sebanyak 20 – 50 liter per hari.

Menurut Sukumar (1989), gajah sering mengunjungi kubangan untuk berendam, mandi dan berkubang untuk menjaga suhu tubuh dan selalu menyemprotkan air dan lumpur dengan belalainya. Gajah melakukan aktivitas berkubang untuk menjaga suhu tubuh dan melindungi diri dari gigitan serangga dan ektoparasit lainnya (Lekagul dan McNeely, 1977).

5.3 Perilaku Kawin

Kondisi lingkungan, ketersediaan sumber daya pakan, dan kepadatan populasi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi usia produktif gajah. Usia produktif gajah biasanya mulai pada usia 10 – 12 tahun (Ishwaran, 1993). Menurut Medway (1978) pada usia 8 – 12 tahun, gajah betina biasanya akan mengalami kematangan reproduksi. Induk betina akan menyusui anaknya kurang lebih selama dua tahun. Masa gestasi berkisar antara 18 – 23 bulan dengan rata-rata sekitar 21 bulan dan jarak antar kehamilan betina sekitar empat tahun (Sukumar, 2003).
Musim kawin dapat terjadi sepanjang tahun, namun frekuensi perkawinan dapat mencapai puncaknya bersamaan dengan datangnya musim hujan (Eltringham, 1982).

Perilaku gajah jantan pada waktu tertentu mengalami perilaku mengamuk (musht) yang ditandai adanya sekresi kelenjar temporal yang keluar dan meleleh di pipi, di antara mata dan telinga, berwarna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini dapat berlangsung 3 – 5 bulan sekali selama 1 – 4 minggu dan sering dihubungkan dengan musim birahi, meskipun belum terdapat bukti kuat (Shoshani dan Eisenberg, 1982).

5.4 Perilaku Sosial

Pada habitat alaminya, gajah merupakan satwa yang hidup dengan pola matriarkal yaitu hidup berkelompok dan setiap kelompok dipimpin oleh satu induk betina paling besar dan gajah yang sudah tua biasanya akan hidup secara soliter karena sudah tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengikuti kelompoknya. Gajah betina muda tetap berada di dalam kelompoknya sebagai pengasuh, sedangkan jantan muda atau dewasa dipaksa atau suka rela keluar dari kelompoknya untuk bergabung dengan kelompok jantan lain (Shoshani dan Eisenberg,1982). Baca Juga : Jurusan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Patut Anda Pertimbangkan, Prospek Kerja Menjanjikan?

Daftar Pustaka

Altevogt, R., F. Kurt. 1975. Elephant. In Grzimek’s Animal Life Encyclopedia Mammals Reinhold Co. New York.

Seidensticker, J. 1984. Managing Elephant Depredation in Agricultural and Forestry Project. World Bank Technical Paper. World Bank. Washington DC.

Lekagul, B. dan J.A. McNeely. 1977. Mammals of Thailand. The Association for the Conservation of Wildlife. Bangkok.
Mercy, A. D. 2009. Feeding of Elephant. Healthcare Management of Captive Asian Elephants. 6: 59 – 63.

Hamid, A. 2001. Mengenal Lebih Dekat Gajah Sumatera di Ekosistem Leuser. Buletin Leuser. 4 (11): 10 – 12.

Hedges, S., M.J. Tyson, A.F. Sitompul dan H. Hammatt. 2006. Why inter-country Loans will not Help Sumatra’s Elephants. Zoo Biology. 25: 235 – 246.

Shoshani, J. dan J.F. Eisenberg. 1982. Elephas maximus. Mammalian Species 182: 1 – 8.

Sukmara, M. D.P. dan B. S. Dewi. 2012. Mitigasi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus

Temminck, 1847) Menggunakan Gajah Patroli di Resort Pemerihan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Wiratno, D. Indriyo, A. Syarifudin dan A. Kartikasari. 2004. Berkaca di Cermin Retak : Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional. The Gibbon Foundation. Departemen Kehutanan. Forest Press. PILI – NGO Movement. Jakarta.

Widowati, A. 1985. Studi Perilaku Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck, 1847) di Kawasan Pelestarian Alam Way Kambas, Lampung Tengah. Skripsi. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

World Wide Fund for Nature. 2011. WWF – Indonesia. https://wwf.panda.org

World Wide Fund for Nature. 2005. Human Wildlife Conflict Manual. Wildlife Management Series. WWF, Southern African Regional Programme Office (SARPO). Harare. Zimbabwe.

Tinggalkan Balasan